Downlow Highup

C6H12O6

Tanpa sengaja  cairan jernih tak berwana tumpah ke ruang hampa dalam jiwa, mengalir lembut nan halus, hangat tanpa riakan buih sedikitpun, seperti alunan lagu Canon In D Mayor milik Johann Pachelbel, nyaman didengar namun tak bisa dinyanyikan. Apa ini sebenarnya, diri ku tak berdaya, gaya gravitasiku melemah, berjalanpun seakan mengambang menapak namun tak berjejak.
Dada ini sesak, udara terasa kental, paru – paruku sulit menghela nafas. Darah semakin mencair,vena dan arteri dengan cepat silih berganti, bekerja mengalirkannya ke aorta. Jantungkupun bernada tinggi, empat per empat ketukan dengan not satu per delapan. Otak ku tak terkendali, saraf – saraf motorik di wajah ku mengembang, seakan gerak tawa ekspresif namun tak bersuara.

Hati ku enggan diam, rasa tak puas akan kegelisahan tanpa kekhawtiran memalaikatkanku dalam mimpi, bermain riang di Istana tanpa singgasana, berenang di antara  tebing - tebing tinggi menjulang namun terihat ramping, dengan sedikit biasan cahaya yang tidak memungkinkan mata menangkap rona – rona warna . tak ada sedikitpun kebisingan yang nyata. Hanya pantulan angin terbentur dinding bertekstur dengan permukaan tak teratur, tak mudah gugur.

Kadar suasana mencipta sejuta asa melarikan keindahaan,merajai diri mengambil akal sehatku dengan ilusi beraroma seni, ragaku jauh tenggelam melawan alam, tangan dan kaki ku tak berhenti bergerak untuk meraih pijakan tertinggi. Tubuhku  lelah bertahan, ratusan milliliter air tertelan mengisi keronkongan, mengenyangkan, manis rasanya mengagantikan energi, tubuhku mengapung kembali.

Aku tahu ini bukan sungai air biasa rasa ini pernah ku rasakan sebelumnya ternyata hanya rangkaian karbohidrat sederhana yaitu, AIR GULA.
READMORE
 

Jadi? (koma)

Tulisan pertama sejak kebiasaan menulisku hilang direnggut oleh ramalan akan masa depan yang tak kunjung datang,entah apa yang hendak ku tulis untuk sebuah pemulaan menceritakan tentang keinginanku kembali terjun kedunia blogger,sampai saat ini mungkin ribuan "backspace" telah ku tekan karena tidak kepercayaanku akan tulisan dan hilangnya sisi sensitifku tentang rasa akan sebuah tata bahasa. "Memulai saja sulit apalagi untuk mengakhiri" jargon yang tak asing yang menjatuhkan mental seseorang dengan iman dibawah rata- rata, kita lihat saja nanti bagai mana huruf - huruf ini terangakai menjadi suatu tulisan  yang berkata - kata atau tulisan yang berkatah - katah.

Berat rasanya menekan tombol "enter" untuk pertama kalinya secara berturut - turut, mengawali paragraf baru dengan kebingungan antara otak untuk berpikir dan otot untuk mengukir, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online-pun sudah disiagakan untuk menanggulangi garis merah bergelombang dibawah yang sangat tidak enak untuk dipandang. Kegelisahan ini tambah memuncak, rasa pesimis akan menyelesaikan tulisan ini semakin menjadi - jadi apakah harus kutekan tombol enter ini kembali atau mengakhiri dengan tanda titik lalu di-publish-kan? dan akhirnya ....


Alhamdulillah, ucapan selamat terdengar sayup - sayup entah dari arah mana asalnya, datang bersautan silih berganti atas keberhasilan ku karena telah melewati jurang - jurang alinea pemisah yang sangat melelahkan untuk dilompati dengan gaya salto miring kesamping. Terhitung satu jam empat puluh delapan menit lima belas detik waktu yang kuhabiskan, dan dua gelas black coffee dengan gambar perahu dan satu lagi white coffee gambar musang digelas yang sama, serta rokok Malrboro merah entah berapa batangku hisap,seingatku tersisa hanya satu batang dan itu-pun menyala ditangan kiriku. Abu pun semakin memanjang, bara api perlahan meredup tak mampu mempertahankan pijarnya.

Tak ada lagi cahaya, diriku tak mampu melawati jurang kembali, padahal ingin mencoba gaya baru,kopi hitam putih yang telah ku teguk menambah pikiranku semakin abu - abu, waktupun enggan ku hitung kembali.sepertinya ini akhir (titik) jadi?
READMORE