Tanpa sengaja cairan jernih tak
berwana tumpah ke ruang hampa dalam jiwa, mengalir lembut nan halus, hangat
tanpa riakan buih sedikitpun, seperti alunan lagu Canon In D Mayor milik Johann
Pachelbel, nyaman didengar namun tak bisa dinyanyikan. Apa ini sebenarnya, diri ku tak berdaya,
gaya gravitasiku melemah, berjalanpun seakan mengambang menapak namun tak
berjejak.
READMORE
Dada ini sesak, udara terasa kental, paru – paruku sulit menghela nafas. Darah
semakin mencair,vena dan arteri dengan cepat silih berganti, bekerja mengalirkannya
ke aorta. Jantungkupun bernada tinggi, empat per empat ketukan dengan not satu
per delapan. Otak ku tak terkendali, saraf – saraf motorik di wajah ku
mengembang, seakan gerak tawa ekspresif namun tak bersuara.
Hati ku enggan diam, rasa tak puas akan kegelisahan tanpa kekhawtiran
memalaikatkanku dalam mimpi, bermain riang di Istana tanpa singgasana, berenang
di antara tebing - tebing tinggi menjulang
namun terihat ramping, dengan sedikit biasan cahaya yang tidak memungkinkan
mata menangkap rona – rona warna . tak ada sedikitpun kebisingan yang nyata. Hanya pantulan angin terbentur dinding bertekstur
dengan permukaan tak teratur, tak mudah gugur.
Kadar suasana mencipta sejuta asa melarikan keindahaan,merajai diri mengambil
akal sehatku dengan ilusi beraroma seni, ragaku jauh tenggelam melawan alam,
tangan dan kaki ku tak berhenti bergerak untuk meraih pijakan tertinggi. Tubuhku
lelah bertahan, ratusan milliliter air tertelan mengisi keronkongan, mengenyangkan, manis rasanya
mengagantikan energi, tubuhku mengapung kembali.
Aku tahu ini bukan sungai air biasa rasa ini pernah ku rasakan sebelumnya
ternyata hanya rangkaian karbohidrat sederhana yaitu, AIR GULA.






